Recent Posts

Rabu, 30 Mei 2012

1 komentar

Cerita Gadis Bispak Gang Sadar Banyumas



Cerita Gadis Bispak Gang Sadar Banyumas - Sekitar 85 Pekerja Seks Komersial(PSK) yang bermukim di Gang Sadar (GS) I dan Gang Sadar II mampu menabung hingga mencapai Rp 1,8 miliar setahun. Namun, saat ini mereka trauma menabung, karena sebagian dana ternyata digunakan Ketua Paguyuban Warga Kos Gang Sadar (GS).

Bendahara GS, Dartun, kemarin menceritakan tabungan yang dimanfaatkan ketua mencapai Rp 547 juta. “Sekarang sisa tanggungan yang belum dikembalikan ke anggota sekitar Rp 254 juta. Sudah ada kesanggupan membayar dari ketua, tetapi sekarang dia sudah tidak lagi di Baturraden,” ungkapnya.
Ny Sumiati (60), salah satu induk semang menuturkan uang yang diduga diselewengkan itu dikumpulkan dari penyisihan simpanan wajib per anak kos Rp 5.000/sekali keluar. Kemudian ditambah tabungan harian yang sifatnya sukarela. Baik induk semang maupun anak kos bisa menabung Rp 50.000-Rp 200.000 sehari.

“Masalahnya jadi ramai saat mau ada pembagian menjelang Lebaran lalu. Ternyata uangnya tidak ada. Katanya digunakan dulu oleh ketua, tapi sampai sekarang masih belum dikembalikan,” kata wanita yang akrab disapa Mami Sum itu.

Pengelola empat anak kos tersebut mengaku setelah ada kejadian tersebut sebagian anak kos dan pemilik rumah singgah belum bersedia lagi menabung lewat paguyuban. “Kami masih trauma menabung lagi lewat paguyuban sebelum masalahnya selesai,” ujar mantan ketua paguyuban itu.

Ia mengaku, saat ini uang yang belum diambil ada sekitar Rp 68 juta. Menjelang Lebaran lalu baru dikembalikan Rp 15 juta dan itu dibagikan dulu ke anak kos. Karena ada kejadian tersebut dia bersama empat anak kosnya yakni Friska, Tinah, Ambar, dan Via kemudian menabung sendiri ke BPR/BKK yang dikumpulkan mingguan dan diambil langsung petugas bank.

Friska (30), salah satu anak kos menceritakan, setelah ada kejadian tabungan macet tak bisa diambil masih takut kalau ikut menabung kembali lewat paguyuban. “Saya masih takut, jadinya ya ngikut mami saja,” kata pendatang dari Pacitan Jatim tersebut.

Dari tabungan yang masih terkumpul, Lebaran lalu dia masih bisa membawa pulang sekitar Rp 13 juta. Kalau tabungan yang tersisa bisa diambil pulang membawa sampai Rp 25 juta.

Diuntungkan Tabungan
Melis (23), anak kos lainnya, mengaku diuntungkan dengan adanya simpanan kolektif tersebut. Pasalnya, dari pendapatan setiap malam selalu ada yang disisihkan. ”Saya pernah pegang uang sendiri, tapi malah cepat habis,” ujar perempuan asal Banjarnegara ini.

Dia mengaku dari uang tabungan sebesar Rp 6 juta baru mendapatkan Rp 2,5 juta. Dia berharap pengurus bisa menyelesaikan masalah keuangan itu secepatnya. ”Semoga bisa selesai secepatnya. Kami ingin tabungan bisa berjalan lagi. Soalnya takut uangnya habis kalau dipegang sendiri,” tuturnya.

Dartin, salah satu pengurus yang bertugas menjadi mediator mengatakan hasil pertemuannya Selasa lalu, ketua sudah menyiapkan pembayaran Rp 100 juta. Uang itu hasil penjualan asetnya di Pabuaran. ”Kalau masih ada iktikad baik dan rasa tanggung jawab, saya minta ke menantunya untuk bisa mendatangkan ke sini, dan Selasa lalu datang. Tapi setelah urusan bank selesai, kembali ke Garut lagi,” katanya.

Menurutnya, saat datang yang bersangkutan mengajak bertemu di BKK Purwokerto Selatan untuk menyaksikan proses pelepasan asetnya seharga Rp 170 juta di Pabuaran. ”Saya inginnya masalah selesai dan warga kos tak perlu berbondong-bondong.

Itu tak menyelesaikan masalah, yang penting saling percaya, enak, dan tanggung jawab.”

Semenjak masalah tersebut mencuat, yang bersangkutan sudah pindah ke luar daerah mengurusi bisnis yang lain. ”Kalau di sini (GS) masih punya rumah untuk anak kos, tapi dikelola istrinya (Mami Uut),” jelasnya.

Ketua Keamanan GS, Amir Mahruf, menambahkan dari upaya yang dilakukan pengurus paguyuban, Ketua Hari Utoyo sebenarnya ada iktikad untuk mengembalikan uang tabungan. Bahkan, saat ini rumah yang berada di kompleks Gang Sadar 2 juga siap diuangkan guna menutup kekurangan. ”Intinya dari ketua ada niat untuk mengembalikan uang tabungan,” jelasnya.

Hingga saat ini Hari Utoyo belum bisa dikonfirmasi. Telepon selulernya tidak aktif. Selasa malam saat didatangi di rumahnya RT 7/RW 2 Desa Karangmangu Baturraden, juga sudah tidak ada.
Terima kasih anda telah membaca artikel Cerita Gadis Bispak Gang Sadar Banyumas, Jika posting berjudul Cerita Gadis Bispak Gang Sadar Banyumas merupakan artikel bermanfaat silahkan share atau berikan tanggapan anda pada kotak komentar di bawah. 

Best viewed on firefox 5+

Teman Baik

Arsip Blog

Sahabat Facebook

Copyright © Design by Repin